Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta Rukmono Siswishanto mengajukan surat kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam surat itu berisi laporan kekosongan oksigen dan permohonan pertolongan oksigen dengan pengukuran Flow Meter Tokico kepada Menteri Kesehatan dan sejumlah pejabat terkait.

“Kami mengajukan permohonan pertolongan sehingga keperluan oksigen sanggup terpenuhi mengingat RSUP Dr Sardjito Yogyakarta juga RS rujukan didalam penanganan COVID-19 hingga tingkat critical.

Rukmono melaporkan bahwa Direktur RSUP Dr Sardjito sudah berkoordinasi dengan beragam pihak untuk memperoleh pasokan oksigen berasal dari penyedia maupun tempat lain. Tetapi hingga waktu ini tetap mengalami kendala.

Persediaan oksigen sentral RSUP Dr Sardjito, lanjutnya, mengalami penurunan terasa hari Sabtu (3/7) pukul 16.00 WIB hingga dengan kehabisan persediaan oksigen pada pukul 18.00.

“Sehingga berisiko pada keselamatan pasien yang dirawat, baik pasien COVID-19 maupun non COVID-19,” katanya.

Rukmono menegaskan bahwa pihaknya sudah melaksanakan upaya antisipasi maksimal dan penghematan seoptimal mungkin.

Sementara itu, Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Humas RSUP Dr. Sardjito, Banu Hermawan waktu dikonfirmasi menyatakan jikalau di Sardjito kondisinya sudah mengkhawatirkan sejak beberapa hari yang lalu. Saat ini pasokan oksigen sedang didalam perjalanan ke RSUP Dr Sardjito.

“Jadi kita sudah warning sejak 3-4 hari lantas tetap lantas didrop lagi. Sampai puncaknya pagi tadi, kita minta kemana-kemana sehingga dikirim oksigen sanggup dikirim paling cepat jam 11 malam ini dijanjikannya,” kata Banu waktu dihubungi wartawan, Sabtu malam ini.

Banu menjelaskan, oksigen sentral di RSUP Dr Sardjito hingga malam ini belum amat habis. Namun, kondisinya tidak sanggup untuk menyuplai seluruh pasien. Sehingga penanganan memakai oksigen tabung.

“Sudah habis tapi di parameter itu tetap terlihat tapi menipis, tersedia batasan untuk menambahkan suplai. Mengalir tapi kecil,” katanya.Jadi gini, kita sanggup nyatakan 1/2 10 (malam) sudah mengalami penurunan betul. Sampai saat ini pun terlihat tapi tidak banyak. Tidak cukup. Sehingga kita memakai penanganan dengan oksigen yang tetap tersisa yaitu oksigen tabung. Pasien yang sudah agak membaik kita hentikan oksigen dulu waktu untuk nyuplai yang situasi tidak baik,” sambungnya.

“Iya. Kita tidak sanggup memungkiri itu, tentu berlangsung seperti itu. Tapi kan sebenarnya itu pada pasien yang pada mulanya didalam situasi kritis. Sehingga jikalau tidak tersuplai oksigen berisiko,” ungkapnya.

Terpisah, Asisten Sekretaris Daerah DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan Tri Saktiyana menyatakan lonjakan keperluan oksigen ini di luar prediksi.

“Sekarang ini untuk (RSUP) Sardjito yang tandon liquid oksigennya sebenarnya amat menipis. Karena sebenarnya lonjakan kebutuhannya di luar prediksi.Untuk menaikkan pasokan oksigen, Saktiyana mendatangkan oksigen cair berasal dari tempat Jawa Barat. Total 2 ton oksigen berupaya didatangkan untuk memenuhi keperluan RSUP Dr Sardjito dan rumah sakit lain. Termasuk rumah sakit di Jawa Tengah.

“Nah kita wajib datangkan trailer oksigen ini berasal dari Jawa Barat. Saat ini sudah meluncur ke jogja, kemungkinan jam 8 tadi sudah hingga Semarang,” tuturnya.

“Sekitar 2 ton. Karena kita setelah kita ke (RSUP) Sardjito. (Untuk) Rumah sakit di Yogyakarta kita juga sharing dengan Klaten,” tambahnya.

 

By Drajad