Apa ada dan tiap fans komik pertarungan dan manga di suatu saat kemungkinan menanyakan pada diri kita, “Seberapa banyak kerusakan yang bisa dilaksanakan watak favorite aku dengan gempuran?” Pertanyaan simpel dan di mana saja ini, yang masih ada dalam pemikiran audience Shonen, bermanifestasi sebagai pembagian paling fundamental dalam sektor pemetaan kekuasaan, yakni analitis hierarkis cerita dan watak/subjeknya.

Power-Scaling 101: Dapatkah Naruto merusak sebuah planet? – Kekuatan gempuran diterangkan

Untuk kepentingan dialog ini, penempatan kekuasaan bisa pahami subyek ini dengan menyaksikan Naruto Uzumaki dari Shonen Jump dan pro-kontra metatextual sekitar kemampuan sebenarnya. Mereka yang turut serta dalam pembicaraan mengenai Naruto sudah memerlukan waktu bertahun -tahun untuk menuntaskan pertanyaan apa Hokage ke-7 Konohagakure bisa merusak sebuah planet.

Planet diartikan
Saat sebelum membuat penilaian atas kekuatan Naruto, yang terbaik ialah pahami bagaimana scaler riil mengekstrapolasi metrik perlakuan fiksi saat metrik itu tidak secara eksplisit dipastikan atau diperlihatkan. Dalam kata lain, beberapa pelit-pertempuran memakai beragam sistem, dari “rasio pixel” (mengekstrapolasi ukuran poin fiksi dengan memakai halaman/panel sebagai rasio rekomendasi) sampai “penimbunan calc” (ekstrapolasi data berdasar awalnya yang diberi awalnya atau data yang dihitung) untuk mengekstraksi data kuantitatif dari media kualitatif yang mayoritas.

Saat watak pemetaan daya berdasar kekuatan fisiknya, statistik yang paling berkaitan condong kecepatan dan kemampuan, yang memiliki arti jika data yang paling berkaitan condong di turunkan lewat joule (j), unit energi standard, dan ‘meter per detik’ ( m/s), standard kecepatan. Memakai penghitungan untuk mengonversi prestasi fiksi jadi data kuantitatif, beberapa pelayan pertarungan bisa membuat garis dasar obyektif untuk prestasi yang dihidangkan oleh penulis-misalnya:

Bila Hokage Naruto bisa merusak Bumi, tanpa argumen untuk memandang bumi Kishimoto memiliki ukuran berlainan dari bumi, karena itu dia secara obyektif bisa hasilkan minimal sekitaran 2,25 x 10^32 joule.

Scalers berasa termudah untuk mengategorikan prestasi kemampuan yang bisa diukur, yang ke arah pada pembangunan jenjang umum dimulai dari ‘planet’ sampai ‘universal’ dan sebagainya, semua diartikan oleh ekstrapolasi output joule. Walau istilah -istilah ini kerap dimengerti dan dipakai secara bahasa satu hari -hari, untuk maksud ini, pengertian yang berjalan mengenai jadi planet tidak selamanya sanggup merusak sebuah planet, tapi sanggup hasilkan sekitaran 2,25 x 10^32 joule – energi yang hendak diambilnya untuk merusak Bumi di luar energi pengikat gravitasi.

Bagaimana menerjemahkan metrik kerusakan
Sesudah pahami dasar -dasar kuantifikasi fiksi, logis untuk menanyakan -tanya kenapa watak yang dipastikan sebagai planet dan sebagainya tidak secara stabil merusak planet mereka dengan gempuran liar. Tetapi, penting untuk dikenang jika karena hanya watak belum lakukan suatu hal tidak berarti mereka tidak dapat. Tetapi pokok sebetulnya dari subyek ini berada pada batas atau kemampuan media dan langkah penulis sudah ambil untuk ekspresikan cerita yang terpusat pada pertarungan.

Metrik kerusakan paling mudah untuk tentukan dikenali sebagai kemampuan destruktif, atau DC, karena kerusakan yang diutarakan lewat DC menggambarkan ketentuan fisik realita. Kemampuan destruktif ialah ukuran joule tindakan fisik dalam rasio pada imbas yang dirasa oleh lingkungan (a.k.a. Tempat efek), mis. Gempuran dikeluarkan dengan 2,25 x 10^32 joule yang merusak sebuah planet mempunyai rasio DC 100%. Pada realitanya, semua perlakuan mempunyai rasio DC 100% karena beragam hukum pelestarian yang membuat pengetahuan kita mengenai semesta alam.

Kebalikannya, kekuatan gempuran, atau AP, sering dapat sulit saat menghitung prestasi, karena menyorot ketidaksamaan khusus di antara realita dan sebagian besar fiksi dalam narasi -cerita ini, khususnya manga pertarungan dan anime, kerap meremehkan hukum pelestarian dengan design. Seorang penulis yang pintar bisa mengaplikasikan mekanisme AP untuk memungkinkannya watak merekayasa Yottajoules pada Yottajoules tanpa menghancurkan penataan narasi, semua sekalian menjaga stabilitas intern cerita. AP menghitung nilai kuantitatif prestasi lepas dari DC.

Dalam narasi -cerita dengan “mekanisme daya” yang lebih berkembang, seperti Naruto atau Hunterxhunter, watak kerap mengutarakan prestasi dan tangani kerusakan yang menghindar pengukur kuantitatif dengan manfaatkan kekuatan yang biasanya dikenali sebagai hax. Kekuatan HAX ini bisa tiba pada hampir semua wujud, dari kecurangan realita Janemba sampai perampokan jiwa Nagato, dan walau mereka bisa dilawan langsung, prestasi ini sering tidak bisa dikuantifikasi.

Kerusakan metrik sebagai alat naratif
Karena fiksi menggambarkan realita, penulis seperti Kishimoto harus berpikiran dengan jeli mengenai bagaimana menyorot komponen fiksi yang fenomenal sekalian menjaga rasa realita yang memungkinkannya pemirsa untuk melakukan investasi didalamnya. Elemen -unsur naratif seperti “kontrol chakra” Naruto dan “kontrol ki” Dragon Ball berperan sebagai contoh prima dari mangaka yang mengaplikasikan alat naratif untuk tingkatkan rasio prestasi seri sekalian menjaga stabilitas dunia.

Saat jenis pertarungan jadi lebih diartikan, trop dan komponen-komponen kunci dari wujud seni jadi lebih sulit, hasilkan kekuatan HAX yang disebut sebelumnya dan nuansa prestasi yang ke arah pada interpretasi yang lebih subjektif dan dengan begitu, pemetaan yang sulit. Seri seperti Hunterxhunter Togashi dan Jujutsu Kaejutsu Kaisen meringkas evolusi Shonen ini dengan mekanisme tenaga yang paling detil yang berperan sebagai point pemasaran ke diri sendiri.

Dengan semuanya, komplikasi mengecek kekuatan Naruto untuk merusak sebuah planet harus jadi lebih terang, dengan prestasi destruktif di panel-nya tidak harus berperan sebagai kebatasan karena komponen naratif, kekuatan gempuran, sama seperti yang diutarakan lewat alat Kishimoto, Chakra Kontrol. Berdasar bukti, terhitung pengakuan Kishimoto yang disepakati dalam databook, feat on-panel dan pemetaan pada Kaguya dan Toneri Otsutsuki dan penilaian langsung Kinshiki, semakin banyak bukti menunjuk pada Hokage Naruto untuk merusak sebuah planet – dan berulang-kali.

 

 

Baca Anime di westmanga

By Drajad