Faktor Penyebab dan Hambatan Perubahan Manajemen PT. KAI

Faktor Penyebab dan Hambatan Perubahan Manajemen PT. KAI

Faktor Penyebab dan Hambatan Perubahan Manajemen PT. KAI

1. Faktor Kepuasan Pelanggan

Pengangkatan Direksi yang baru pada tahun 2009 membuat Perseroan semakin giat melakukan banyak perubahan dan pembenahan di berbagai bidang Perseroan, mulai dari perubahan struktur organisasi dari konvensional ke yang lebih modern, menghidupkan kembali aset-aset yang ada, reorganisasi struktur organisasi perusahaan. proses, manajemen sumber daya manusia perusahaan secara keseluruhan dan lain-lain. Dulu, kereta api dan stasiun di Indonesia identik dengan kawasan kumuh dan rusuh, dengan banyaknya keluhan masyarakat atas buruknya pelayanan yang diberikan PT KAI (DetikNews, 2011). Seiring dengan tekanan masyarakat yang ada untuk keamanan dan kenyamanan transportasi kereta api. Namun, PT KAI belum menanggapi keluhan masyarakat untuk meningkatkan pelayanannya. Inilah beberapa hal yang dilakukan PT KAI untuk menyempurnakan sistem operasinya.

 

2. Faktor Laba dan Rugi

Ketidakpercayaan publik terhadap apa yang telah dikatakan sebelumnya telah menyebabkan kerugian selama beberapa tahun. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada PT. KAI. PT. KAI mengasumsikan bahwa posisi keuangannya akan membaik setelah perubahan.

Hambatan dalam Proses Perubahan

Dalam proses perubahan di PT Kereta Api Indonesia (Persero) terdapat konflik internal dan eksternal, hal ini menjadi kendala tersendiri dalam proses perubahan di PT KAI (Persero).

1. Pihak Internal

Pihak internal adalah orang-orang yang bekerja dalam organisasi atau perusahaan dan berhubungan langsung dengan organisasi atau perusahaan tersebut. Pihak internal di PT KAI sendiri, seperti karyawan perusahaan, sedikit menolak dan percaya bahwa perubahan akan berdampak pada mereka, baik pada kesulitan pekerjaan, jam kerja dan lain-lain. Waktu perubahan yang relatif cepat, sehingga karyawan tidak dapat atau tidak dapat mengikuti perubahan yang telah ditentukan oleh manajemen, sehingga tidak sedikit karyawan di perusahaan yang tidak dapat mengikuti perubahan tersebut, akibatnya mereka ditiadakan pensiun atau bahkan diberhentikan oleh perusahaan. perusahaan jika karyawan menghalangi proses perubahan. Pemutusan hubungan kerja tentu saja proporsional atau pemutusan hubungan kerja terjadi jika karyawan harus memenuhi persyaratan dan diidentifikasi.

2. Pihak Eksternal

Pihak eksternal adalah orang-orang yang berada di luar organisasi. Pihak eksternal seperti masyarakat, masyarakat, tidak cukup mengetahui bahwa perusahaan melakukan perubahan, sehingga membutuhkan waktu yang lama sebelum perusahaan memberitahukan kepada publik tentang perubahan yang telah dilakukan oleh perusahaan PT KAI.

Contoh hambatan yang muncul adalah salah satu perubahan teknologi yang diperkenalkan PT KAI untuk penjualan tiket, yaitu penggunaan sistem ‘Self Check In’ atau pencetakan tiket secara mandiri. Perubahan ini menghadapi beberapa kendala, antara lain:
Sistem ‘Self Check In’ atau pencetakan tiket mandiri belum berlaku secara nasional di semua stasiun kereta api di Indonesia, hanya di beberapa stasiun kereta api besar.
Sistem ‘Self Check In’ tidak disosialisasikan di semua kalangan masyarakat.
Banyak pengguna kereta api yang masih bingung menggunakan sistem ini karena sistem ini masih tergolong baru dan perlu dipelajari oleh semua orang yang akan menggunakannya.
Beberapa hal inilah yang menyebabkan beralihnya penggunaan sistem ‘Self Check In’ atau pencetakan tiket sendiri tidak dilakukan dengan baik. Sumber Rangkuman Terlengkap : SarjanaEkonomi.Co.Id