Cara dan Tips Memulai Bisnis Konveksi

Konveksi sering disamakan dengan bisnis garmen, padahal kedua bisnis ini berbeda. Jika bisnis garmen berlokasi di pabrik dan memiliki berton-ton kain dan ratusan karyawan dengan mesin jahit sendiri, maka tidak perlu membuat ribuan garmen seperti garmen, tetapi di bawah 500 potong dan hanya belasan hingga puluhan karyawan yang melakukannya.

Garmen mampu menghasilkan lebih dari konveksi, yaitu lebih dari 10.000 pcs. Namun tidak ada satupun upaya yang dapat dilakukan tanpa mengalami kendala. Oleh karena itu, ikuti tips berikut ini agar bisnis yang Anda mulai dapat berjalan dengan baik:

Menyiapkan lokasi usaha 

Salah satu faktor penting dalam menentukan suatu usaha adalah pemilihan lokasi yang tepat. Namun jika modal yang Anda miliki cukup besar, Anda juga bisa menyewa tempat di area yang lebih strategis.  Hal ini sebenarnya disesuaikan dengan budget dan strategi penjualan yang Anda terapkan. Berikut beberapa tips dalam memilih supplier.

Usahakan cari supplier yang dekat dengan lokasi usaha Anda untuk menekan biaya produksi. Pemasok yang dilokalkan dengan bisnis lain atau memiliki layanan dan produk dengan pasokan yang berbedakan pendukung. Kepercayaan dapat dibangun dengan, membuat konten melalui promosi media seperti blog dan instagram.

Bekerja sama dengan perusahaan atau media lain, serta memberikan pengetahuan produk dan juga bukti produk kepada calon pelanggan. Selain membangun kepercayaan, branding juga harus dibangun. Strategi promosi pemasaran yang baik akan berpengaruh dengan bisnis konveksi Anda.

Kamu dapat memilih penjualan Business-to-business (B2B) dengan kata lain yang menjual produk kamu kepada institusi atau perusahaan atau penjualan, atau Business-to-consumer (B2C) yaitu penjualan masyarakat umum.

Dalam bisnis konveksi, B2B bisa berupa penjualan seragam dan upacara upacara. Untuk menarik minat calon pelanggan, buat strategi yang unik, misalnya memanfaatkan media sosial, membagikan pamflet maupun brosur, memasang spanduk, dan memberikan potongan harga bagi setiap pelanggan pertama.

 

Kedua, minta nama agar terkesan familiar dan agar Anda bisa membedakan antar konsumen, tujuannya agar jika ada lebih dari satu pelanggan tidak akan bingung dan bingung. Pesanan apa untuk orang A dan pesanan apa untuk orang B. Masalahnya adalah proses komunikasi Anda tidak hanya terbatas pada Anda dengan konsumen tetapi juga dengan vendor. Nah itulah tips untuk memudahkan anda.

Baca Juga: komikindo