Bagi Anda yang ingin memiliki rumah, Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) adalah salah satu alternatif cara selain membeli secara tunai. Membeli rumah secara tunai membutuhkan biaya yang sangat besar. Tidak heran apabila banyak orang yang lebih memilih KPR sebagai cara agar memiliki rumah dengan cepat.

Sebelum mengajukan KPR, Anda harus menyiapkan dana untuk uang muka terlebih dahulu. Uang muka untuk KPR biasanya 20% hingga 30% dari harga rumah yang akan dibeli.

Tidak semua pengajuan KPR bisa diloloskan oleh pihak bank. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajuan gagal untuk di ACC.

Berikut ini 5 cara efektif yang bisa Anda ikuti agar KPR dapat disetujui bank dengan cepat.

1. Melengkapi Dokumen yang Dibutuhkan

Sama seperti pengajuan pinjaman lainnya, Anda juga harus melengkapi dokumen-dokumen pengajuan KPR. Dokumen-dokumen tersebut nantikan akan diserahkan ke pihak bank untuk diperiksa.

Pada umumnya, dokumen yang diminta pihak bank untuk pengajuan KPR diantaranya:

  • Kartu identitas diri berupa KTP
  • Kartu Keluarga (KK)
  • Laporan SPT atau Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Rekening tabungan 3 bulan terakhir
  • Surat Keterangan Kerja dari perusahaan atau tempat bekerja
  • Pas foto (jika sudah menikah maka bersama pasangan)
  • Buku nikah bagi pemohon yang sudah menikah.

Bagi Anda yang ingin membeli rumah bekas langsung dari tangan pertama, Anda juga harus melengkapi dokumen lainnya seperti:

  • Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
  • Sertifikat Rumah
  • Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terakhir
  • KTP penjual

Namun apabila Anda membeli rumah bekas dari pengembang, maka Anda tidak perlu menyertakan dokumen-dokumen di atas.

Dokumen yang telah disiapkan sebelumnya dijadikan satu dalam satu map. Setelah itu, Anda bisa menyerahkannya ke pihak bank. Pihak bank akan memproses pengajuan tersebut selama 5 hingga 14 hari kerja.

2. Menunggu Proses Penilaian dari Pihak Bank

Selain memeriksa dokumen-dokumen pengajuan, pihak bank juga akan melakukan penilaian harga rumah bekas yang ingin dibeli atau proses appraisal. Hal ini bertujuan untuk menghindari pengajuan KPR yang tidak tepat sasaran.

Pihak bank akan langsung melakukan survei ke rumah yang akan Anda beli. Bank akan menentukan harga kelayakan rumah. Harga jual yang diberikan pihak bank biasanya di bawah harga jual yang ditawarkan oleh penjual atau pengembang.

Apabila terdapat selisih harga dari pihak bank dan penjual, maka Anda harus membayar selisih tersebut. Proses appraisal ini dilakukan biasanya apabila pengembang tidak memiliki kerjasama dengan bank tempat Anda mengajukan KPR.

Selain itu, pihak bank juga akan mengecek kebenaran data yang Anda isikan pada formulir pengajuan KPR. Anda akan diberikan sejumlah pertanyaan untuk mengecek keaslian data yang diberikan.

Pastikan Anda menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur. Apabila Anda ketahuan memberikan data palsu, maka pihak bank akan langsung menolak pengajuan KPR Anda. Bisa jadi Anda akan langsung masuk daftar hitam bank karena berusaha melakukan penipuan data.

3. Menghitung Penawaran yang Diberikan Bank

Setelah dokumen dan data yang diajukan telah disetujui. Selanjutnya, pihak bank akan menghitung suku bunga, cicilan, tenor, dan biaya-biaya lainnya yang timbul karena adanya pengajuan KPR.

Pihak bank akan mengambil keuntungan dari KPR yang Anda ajukan. Tidak heran apabila total harga rumah awal akan berbeda dengan harga dari total cicilan awal hingga akhir. Hal ini terjadi karena pihak bank telah menambahkan biaya-biaya lainnya pada cicilan yang Anda bayarkan tiap bulannya.

Apabila selisih harga rumah dengan harga setelah di total selama melakukan pengangsuran terlalu jauh, Anda bisa melakukan negosiasi ulang dengan pihak bank. Anda perlu menghitung secara matang penawaran yang diberikan bank.

4. Membuat Surat Persetujuan Kredit

Saat KPR telah disetujui, pihak bank akan membuat Surat Persetujuan Kredit (SPK) terlebih dahulu sebelum mencairkan kreditnya. Pada surat tersebut berisikan informasi penting mengenai KPR yang diajukan.

Informasi seperti nilai kredit yang disetujui, besaran cicilan yang harus dibayar setiap bulan, hingga jangka waktu pembayaran yang telah disepakati bisa ditemukan di SPK tersebut. Biaya lain seperti biaya administrasi, asuransi, serta dana satu kali cicilan yang ditahan oleh pihak bank juga tertera secara rinci di SPK.

5. Melakukan Proses Akad

Jika 4 tahapan sebelumnya beres dilakukan, maka tahapan yang terakhir yaitu melakukan proses akad KPR. Akad ini dilakukan antara nasabah (Anda) dan pihak bank sebagai kreditur.

Dalam proses akad KPR, ada notaris yang bertugas sebagai pihak ketiga atau saksi. Setelah proses akad telah selesai, pihak bank akan langsung mengirim uang ke pengembang atau penjual rumah. Sementara notaris bertugas mengurus surat balik nama.

Pihak bank akan menahan dokumen-dokumen berharga seperti sertifikat rumah, IMB, dan PBB sebagai jaminan KPR. Dokumen tersebut dijadikan jaminan apabila suatu saat adanya kredit macet maupun hal-hal lain yang tidak diinginkan.