Jakarta News – Chairil Anwar lahir Medan, pada 26 Juli 1922. Dia dikenal sebagai seorang pujangga penyair besar Indonesia, dengan karya puisinya yang terkenal di antaranya, “Aku”, “Lagu Siul”, “Diponegoro”, “Doa”, serta “Krawang-Bekasi”.

Pada tanggal 26 Juli 2022 lalu genap perayaan 100 tahun puisi Chairil Anwar. Puisi yang penuh makna kaya akan diksi. Puisi kontemporer yang tidak terikat aturan.

Siapa yang tidak mengenal tokoh legendaris Chairil Anwar. Mungkin sepanjang perjalanan hidup. Mulai kita SD selalu terselip puisi Chairil Anwar. Yang sering muncul puisi berjudul

“Aku”

“Pangeran Diponegoro”

“Krawang Bekasi”

Chairil pernah melengkapi hidupnya dengan menikahi Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa Chairil Anwar. Namun, kedua pasangan ini bercerai pada akhir 1948.

Puisi yang penuh makna. Kepercayaan diri dan kekuatan untuk tetap hidup dan sangat berarti untuk bangsa dan negara. Chairil Anwar termasuk pahlawan di bidang sastra. Tulisannya hidup meskipun raga sudah tiada. Sesuai dengan salah satu isi puisinya dengan judul “Aku”

Puisi yang sering dipakai untuk lomba pembacaan puisi. Bahkan sering dianalisis di dalam buku mata pelajaran. Puisi berjudul “Aku” memang sangat melekat di hati.

Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

 

Tak perlu sedu car itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

hingga hilang pedih peri

 

Dan aku akan lebih tidak peduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Maret 1943

 

Dari penggalan puisi di atas Chairil Anwar berpesan. Menurut analisis saya dari trap pertama.

 

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

 

Baris pertama Chairil Anwar berpesan bahwa jika saat ajal menjemput dengan kalimat “kalau sampai waktuku”.

 

“Kumau tak seorang play on words ‘kan merayu” bermakna di saat maut mau menjemput , rasa sakit yang mendera, tidak seorang joke yang prihatin terhadap rasa sakit menggerogoti raga.

 

“Tidak juga kau” bermakna tiada siapapun yang dia percaya. Biarlah aku sendiri tanpa perhatian palsu.

 

“Tak perlu sedu vehicle itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang”

 

Dari baik ini Chairil Anwar berpesan tidak membutuhkan ratapan dan tangisan. Karena dia adalah orang yang tidak berdaya. Tidak punya apa yang dibanggakan. Benar terbuang tak berguna.

 

“Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang”

 

Meskipun badai rintangan hadir di hidupnya Chairil Anwar tetap bangkit. Terus berlari, teguh dan kuat. Dalam keadaan geram terhadap penjajah. Chairil Anwar lewat puisinya berusaha melawan. Menerjang atau menyerang. Tidak mau pasrah. Tetap mempertahankan kemerdekaan meskipun nyawa melayang.

 

“Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

hingga hilang pedih peri”

 

Biarpun penuh luka, atau raganya pada saat itu menderita sakit. Chairil Anwar tetap bangkit dan tetap tegar. Berlari hingga hilang pedih dan peri. Dengan cara iru dia melawan rasa sakit.

 

“Dan aku akan lebih tidak peduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi”

 

Chairil Anwar tidak peduli rasa sakit. Ingin segera bangsa Indonesia terbebas dari penjajah. Tulisannya penuh semangat. Dan ingin hidup seribu tahun lagi. Memang benar hingga sekarang tulisan Chairil Anwar tetap hidup.

 

Membacakan puisi Chairil Anwar berjudul “Aku” dengan rhythm pembacaan dengan nothing semangat dan nyaring. Merasakan puisi itu bernyawa. Penuh perjuangan.

Aku pasti bisa

Menempuh badai

Meskipun raga di dera derita

Tetap menerjang

 

Badai topan tak menghalang

Tuk bisa hidup seribu tahun lagi

Menurut A. Teeuw, kritikus sastra Indonesia, menyebutnya sebagai “penyair Indonesia yang sempurna”. Ia joke mencatat bahwa karya Chairil banyak diperbincangkan oleh penyair muda dan kritikus pada 1980-an. Sementara itu, H. B. Jassin, menyebutnya bersama Asrul Sani dan Rivai Apin sebagai pelopor angkatan 45 dan puisi current.

Pada 28 April 1949, Chairil Anwar adalah orang yang meneriakkan keinginan hidup seribu tahun ini meninggal dunia di rumah sakit CBZ. Ia sudah lama menderita penyakit paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya. Ususnya pecah di usianya yang baru menginjak dua puluh tujuh tahun. Lantas, ia joke dimakamkan di pemakaman Karet Bivak, Jakarta.

100 tahun Chairil Anwar programming interface berkobar. Semangat juang yang dilukiskan lewat puisi. Abadi sepanjang masa. Puisi yang penuh makna dan mengobarkan programming interface semangat. Karya-karyanya yang selalu hidup sepanjang waktu.